Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2012

Hakikat Taubat


“Baroatum minal Allohi...” (pemutusan hubungan dengan Alloh) yang mengawali surat at-taubah  ternyata menjelaskan hakikat dari taubat itu sendiri bahwa selayaknya kita cepat kembali sambung hubungan lagi dengan Alloh setelah putus, jangan berkama-lama putus hubungan dengan Alloh.

Camkanlah! putus hubungan dengan Alloh adalah saat terkelam dalam detik - detik situasi mencekam dalam hidup kita, sebab saat itu terlepas dari perlindungan , kasih-sayang, petunjuk, anugrah dsb-nya pemberian Alloh Azza wa Jalla, Na'udzubillahi min jallik!

Dalam al_Qur'an semua surat ter awali dengan kalimat "Bismillahirramanirrahiim", yaitu dengan  (menurut guru kami artinya sambung) asma Alloh yang maha kasih , maha sayang, 
kecuali surat At-taubah.

Hakikat tobat menjelaskan hakikat dosa, sebab saat manusia melakukan maksiat adalah saat terputus dari petunjuk Alloh SWT. Tetapi tanpa maksiat tak ada tobat!

Tobat bermakna kembali, kembali tersambung dengan sang pencipta, sang pengatur, sang penjaga, kembali bertauhid! juga  kalimat"wa rosulihi.." kembali meneladani menapak tilasi perilaku jasmani dan rohani rasulillah SAW sebagai contoh visual.

Tawajjuh yang Benar


Tawajjuh (menghadap –Nya dengan ibadah) yang benar disyaratkan adanya Ridho Allah Ta’ala atas pelaksanaannya, dengan cara yang ridihoi pula. Dan yang disyarati tidak sah tanpa sah syaratnya. FirmanNya,  “Allah swt, tidak ridho dengan kufurnya para hambaNya.” Karena itu harus mewujudkan Iman. FirmanNya, “Bila kalian bersyukur, maka Allah meridhoi kalian. “ (Az-Zumar, 7), maka harus mengamalkan Islam.

Tasawuf tidak sah tanpa fiqih, karena aturan-aturan Allah secara dzohir tidak bisa dikenal kecuali dari fiqih. Fiqih tidak benar tanpa Tasawuf, karena tidak bisa beramal dengan benar dan menghadap Allah dengan benar tanpa Tasawuf.

Tidak ada hasrat yang benar kecuali dengan Iman, dan tanpa Tasawuf dan Fiqih, hasrat cita tidak akan benar. Karena itu Tasawuf dan Fiqih harus berpadu karena adanya keharusan lazim dalam aturan, sebagaimana lazimnya integrasi antara ruh dan jasad, dan ruh tidak akan ada kecuali dalam jasad dan sebaliknya, sebagaimana tidak ada kehidupan tanpa ruh pada jasad.

Ucapan Imam Malik ra, “Siapa yang bertasawuf tanpa berfiqih maka ia telah zindiq, dan siapa yang berfiqih tanpa tasawuf maka ia fasiq. Siapa yang memadukan keduanya, ia benar-benar mewujudkan kebenaran.”

Saya katakan: “Tindakan zindiq yang pertama, karena ia hanya pasrah pada takdir karena menghilangkan hikmah dan hukum-hukum. Sedangkan kefasikan pada kalimat kedua, adalah karena hilangnya amal demi menghadap Allah, dan tidak bisa bersih dari maksiat, tidak bisa ikhlas, yang disyaratkan dalam beramal Lillah. Sedangkan perwujudan kebenaran pada wacana ketiga, adalah karena penegakan terhadap hakikat dalam kenyataan yang sebenarnya yaitu berpegang teguh pada Allah Ta’ala. Maka kenailah semua itu…”


ASAL USUL TASAWUF

Penyandaran bukti sesuatu pada asal usulnya, dan penegakan bukti yang khusus padanya, akan menolak ucapan orang yang mengingkari hakikat kebenarannya.

Asal usul Tasawuf adalah Maqom Al-Ihsan, yang ditafsirkan oleh Rasulullah saw, dengan “Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, maka apabila kamu tidak bisa melihatNya, sesungguhnya (kenyataan mutlak) Allah swt, melihatmu.”.

Sebab, makna benarnya Tawajjuh kepada Allah kembali pada hadits tersebut, dan kepadanyalah orientasi Tawajjuh itu terjadi, karena teksnya menunjukkan pada upaya meraih Muroqobah (mendekat) yang diharuskan dalam amal ibadah.

Motivasi terhadap Al-Ihsan berarti anjuran pada pernyataannya, sebagaimana Fiqih berkisar pada Maqom Islam, dan Ushul pada Maqom Iman. Tasawuf merupakan salah satu sendi agama yang diajarkan oleh  Jibril as, kepada Nabi saw, agar diajarkan kepada para sahabatnya – semoga Allah meridhoi mereka semua –
(Dari Kitab Qowaidut Tashawwuf ‘ala Wajhin Yajma’u Bainasy Syari’ah wal-Haqiqah, waYashilul Ushul wal-Fiqh bit-Thariqah)

Hakikat Basmallah (Bag 2)


Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, "Tafsirul Qur'anil Karim" menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, berarti Asma-asma Allah Ta’ala diproyeksikan yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta'ala. Sedangkan wujud Asma itu sendiri menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.

Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi Sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian "Tidak membuat penyifatan".

"Ar- Rahman" adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan keparipurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah. dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.

"Ar-Rahiim" adalah yang melimpah bagi keparipurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Karena itu sering. disebutkan, "Wahai Yang Maha Rahman bagi Dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat".

Artinya, adalah proyeksi kemanusiaan yang sempuma, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks, inilah Nabi Muhammad saw. Bersabda, "Aku diberi anugerah globalitas Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) paripurna akhlak".

Karena. kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi - alaihimus salam - meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini bisa ditemukan dalam periode! Isa as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.

Disebutkan, bahwa Wujud ini muncul dari huruf Baa’ dari Basmalah. Karena Baa’ tersebut mengiringi huruf Alif yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari Ciptaan Allah, yang disebutkan (untuk akal) melalui firman-Nya, "Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan ketimbang dirimu, dan denganmu Aku memberi. denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa". (Al-hadits).

Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.

Delapan belas huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Karena huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif merupakan induk dari seluruh strata yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.

Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan Alam Kemanusiaan. Walau pun masuk kategori alam hewani, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalitasnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, toh ada alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.

Tiga Alif yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan petunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af 'aal. Yaitu tiga Alam ketika dipisah-pisah, dan Satu Alam ketika dinilai dari hakikatnya.

Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi. Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa', "dari mana hilangnya Alif itu?" Maka Rasulullah saw, menjawab, "Dicuri oleh Syetan".

Diharuskannya memanjangkan huruf Baa'nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan bisa dikenal kecuali oleh ahlinya. Karenanya, dalam hadist disebutkan, "Manusia diciptakan menurut gambaran Nya".

Dzat sendiri tersembunyikan oleh Sifat, dan Sifat tersembunyikan oleh Af'aal. Af'aal tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk. Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajallinya Af'aal Allah dengan sirnanya tirai jagad raya, maka ia akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajallinya Sifat dengan sirnanya tirai Af'aal, ia akan Ridha dan Pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya tirai Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih Penyatuan Mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca "Bismillahirrahmaanirrahiim".

Tauhidnya af'aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, "Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu." 

Hakikat Basmallah (Bag 1)


Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda : "Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur'an. Dan seluruh kandungan Al-Qur'an ada di dalam Al-Fatihah. "
"Dan semua yang  ada dalam Al-Fatihah ada di dalam "Bismillahirrahmaanirrahiim." Bahkan disebutkan dalam hadits lain,"setiap kandungan yang ada dalam Bismillahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf Baa', dan setiap yang terkandung di dalam Baa’ ada di dalam titik yang berada dibawah Baa'".

Sebagian para Arifin menegaskan, "Dalam perspektif orang yang ma'rifat kepada Allah, "Bismillaahirrahmaanirrahim" itu kedudukannya sama dengan "kun" dari Allah”.

Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai "Bismillahirrahmaanirrahiim" banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahwu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur'an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-huruf yang ada dalam huruf Baa', manfaat dan rahasianya.

Tujuan kami bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada esensi atau hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, pembahasannya akan saling berkelindan satu sama lainnya, karena seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.

Kita memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas.

Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa' adalah awal mula setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun dari titik, dan sudah semestinya setiap Surat ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala.

Kerangka hubungan antara huruf Baa' dengan Titiknya secara komprehensif akan dijelaskan berikut nanti. Bahwa Baa' dalam setiap surat itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Basmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Taubah. Huruf Baa' itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Tak terkecuali Surat At-Taubah yang tidak di awali dengan  basmalalah tetapi dengan “Baroatum minal Allohi” (pemutusan hubungan dengan Alloh) Karena itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur'an mesti diawali dengan Baa' sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur'an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa', akhirnya pada titik.

Hal yang sama , Allah SWT dengan seluruh yang ada secara paripurna sama sekali tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Titik sendiri merupakan syarat-syarat dzat Allah Ta'ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya ketika dalam penampakkan-Nya terhadap mahlukNya. 

Amboi, titik itu tidak tampak dan tidak Layak lagi bagi anda untuk dibaca selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala batasan, dari satu makhraj ke makhraj lainya. Sebab ia adalah jiwa dari seluruh huruf yang keluar dari seluruh tempat keluarnya huruf. 

Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa' dengan dua tik, lalu Anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’, maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik itu sendiri. Sebab Taa' bertitik dua, dan Tsaa' bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya Anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-masing dibedakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah. Bahwa Anda mengenal-Nya dari makhluk sesungguhnya Anda mengenal-Nya dari Allah swt.

Hanya saja Titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada titik tersebut. Ada sebagian yang tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf tanpa Titik. Karena huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif lebih mulia dibanding Baa',karena Titiknya justru menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa' itu sendiri tidak tampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa' tidak akan tampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Karena Titik suatu huruf Merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara penyatuan itu sendiri mengindikasikan adanya faktor lain, yaitu faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.

Huruf Alif itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda bisa mengatakan bahwa Baa' itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya, adalah Alif dibengkokkan' dua ujungnya. Daal adalah Alif yang yang ditekuk tengahnya.

Sedangkan Alif dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat Masing-masing huruf tersusun dari Titik. Sementara Titik bagi setiap huruf ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif dengan kerangkanya seperti kedudukan Titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’ adalah Alif yang terdatarkan.

Demikian pula Hakikat Muhammadiyyah merupakan inti dimana seluruh jagad raya ini diciptakan dari Hakikat Muhammadiyah itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt, menciptakan Ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari Ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw adalah Sifat Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah. (Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra'kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan Singgasana Ar-Rahman) Sedangkan huruf Alif, walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif merupakan manifestasi Titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah Titik tidak lain kecuali berada satu derajat. Karena dua Titik manakala disusun dua bentuk alif, maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.

Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif, seperti huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya memanjang, tengahnya juga memanjang namun pada pangkalnya yang pertama lebar. Masing-masing ada tiga dimensi. Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik , tidak punya bentangan. Hubungan Alif diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya yang paripurna. Karenanya Alif mendahului semua huruf.

Diantara huruf-huruf itu ada yang punya Titik di atasnya, ada pula yang punya Titik dibawahnya,Yang pertama (titik di atas) menempati posisi "Aku tidak melihat sesuatu sebelumnya, kecuali melihat Allah di sana".

Diantara huruf itu ada yang mempunyai Titik di tengah, seperti Titik putih dalam lobang seperti : Huruf Mim dan Wawu serta sejenisnya, maka posisinya pada tahap, "Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya." 

Karenanya titik itu berlobang, sebab dalam lobang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri Lingkaran kepada kepala Miim menempati tahap, "Aku tidak melihat sesuatu" 
sementara Titik putih menempati "Kecuali aku melihat Allah di dalamnya."

Alif menempati posisi "Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Allah." Kalimat "sesungguhnya" menempati posisi arti "Tidak", dengan uraian "Sesungguhnya orang-orang berbaiat" kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah."

Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibai'at (oleh Jibril As), lalu dia bersyahadat dengan  bersyahadat kepada Allah pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbai'at kecuali berbai'at kepada Allah. Artinya juga : kamu sebenarnya tidak berbai'at kepada Muhammad saw. tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt. Itulah arti sebenarnya dari makna Khilafah.

Selasa, 30 Oktober 2012

Aufklarung


Kita bisa berada di  masa pencerahan (aufklarung), jika senatiasa berusaha  dalam upaya yang terus- menerus (istiqomah) tuk mengenal diri sendiri. yaitu antara lain:
1. Kenal  diri bahwa kita ini obyek kekuasaan (maqdur) dari Tuhan yang Maha Berkuasa / Super Power    (Al-Qodir). 
2..Kenal diri bahwa kita ini obyek yang hidup dipenuhi ketundukan sebagai hamba (marbub) dari Tuannya (Rabb),
3. Kenal diri kita sebagai obyek kasih (marhum) dari Yang Maha Kasih (Ar-Rahman).

Sebenarnya lebih dari 3 posisi kenal diri karena kita ini adalah obyek seluruh sifat Tuhan, dari ketiga hal tersebut diatas penjelasannya adalah :

Jika kita sadar, kita ini obyek, kita akan pasrah (Istislam) dalam genggaman kekuasaannya (dengan terus ikhtiar menuju perubahan dengan iringan doa / permintaan, sebab tak mungkin juga melawan "The Real Super Power" ), Bermula Tuhan melihat dulu ada - tidaknya tekad kita / niat kita untuk berubah, berarti Tuhan melihat kita mempunyai rasa optimisme dan harapan atau tidak putus harapan akan kasih (rahmat) Tuhan untuk memberikan kesuksesan dalam kehidupan yang bermanfaat bagi diri dan sesama, inilah kemudian berlaku makna: "setiap amal tergantung niat".
Ikhlas (hanya untuk menyenangkan Tuhan), agar kita pun jadi  Ridlo' (senang) hingga hati takkan tersakiti oleh perasaan gundah akibat pemberontakan diri kita sendiri akibat rasa tak suka / tak senang akan kondisi yang tak men-enak kan ( uncomfortable zone) yang sedang kita alami sekarang.

Sadarilah teman -teman ! dalam genggaman kekusaan-Nya ada kasih Sang Maha Pengasih. Mungkin dalam keterpurukan kita Tuhan sedang mendewasakan kita, dalam keterbatasan kita Tuhan sedang membentuk jiwa kita sebagai Pejuang (Fighter). Dan dalam kenikmatan tak kan membuat kita lupa diri, lupa orang lain / sesama, dan lupa Tuhan, dalam kenikmatan mungkin Tuhan mengajari kita pandai berterima kasih.

Semoga terus dalam aufklarung !


Minggu, 28 Oktober 2012

Sebuah Pernyataan Tak Ku Mengerti maksudnya.




Statemen Sahabat  Sang Nabi :
"Orang yang kikir, berani muka."
Apa sih hakikat maknanya?
Sebuah pernyataan yang tak kumengerti


Ini sebuah bukti kenyataan bahwa aku bodoh
ternyata kesadaran diri mengungkap kelemahan
terbentuk karena terus berupaya
terus dalam bingkai pembelajaran
wisdom # 5

Keterpaksaan



Malaikat (Angel) adalah mahluk "keterpaksaan",
yang di kuasai kekuatan yang memaksa dia melakukan tugas-tugas.

Manusia adalah mahluk "keterpaksaan",
yang dikuasai kekuatan yang memaksa dia melakukan kewajiban-kewajiban.

Manusia adalah mahluk bebas (merdeka),
manakala melakukan kebajikan-kebajikan yang variatif untuk sesama (Kemanusiaan),
dan untuk Tuhannya (amalan sunnah).

Tetapi janganlah lepaskan identitas sebagai mahluk "yang terpaksa",
jika tak mau Tuhan melepaskan kamu sebagai hambaNya,
dengan menanggalkan perlindungan dan pengaturanNya
dari dirimu.

Dan itulah musibah terbesar bagi mahluk. 
wisdom # 4

Dermawan


Anak kecil yang memberikan sesuatu dari tangan nya
bukan di sebut kedermawanan,
tapi karena kelemahannya.

Seorang yang dewasa yang paripurna akalnya
memberikan sesuatu kepada orang lain
barulah disebut dermawan
Wisdom #3

Pengorbanan Nida


Seorang ibunda mengorban dirinya berpisah jauh dari anak dan keluarga besarnya
andai disini dapat rupiah lebih besar, ia tak-kan ke negeri kuning
demi masa depan buah hatinya agar hidup lebih layak

Lihat lah dari sudut pandang hakikat pengorbanan kesenangannya
Ia telah berkorban melebihi korban 20 ekor kambing
sama seperti sang nabi mengorbankan anak

Sabtu, 27 Oktober 2012

Life is beautiful


Hidup itu indah bila ada orang lain yang hidup bersamamu.
bila ada bersyukurlah!, dengan tidak melukai hatinya.
wisdom # 2

Kamis, 25 Oktober 2012

Azra kecilku

"...Kedatangan nya sepulang sekolah,
siang itu!.
Seperti angin yang sejuk
memberikan kesegaran bagi jiwaku
yang gelisah dalam api
karena ketak-sukaan akan suatu ketetapan.

Tuhan rupanya masih mentolerirku dengan sebuah hiburan bagi jiwa!"

Orang - Orang Kurus


Aku melewati sekumpulan orang-orang kurus kering dan warna kulitnya berubah
lalu aku bertanya pada mereka : " Apa yang membuat kalian jadi demikian?"
Mereka menjawab karena "takut".

Lalu suatu saat aku lewati sekelompok orang yang lebih kurus dan warna kulitnya berubah
 menghitam dan kering,
kemudian aku bertanya : " Kenapa kalian begini?
karena "rindu" jawab mereka.

...dan yang kujumpai berikutnya sekelompok orang lebih kurus dan keadaannya lebih mengenaskan
lalu aku bertanya pada mereka apa yang membuat mereka begitu,
karena "rindu" dan "cinta."

Aku berdoa "Tuhan Puaskan Mereka!.

Nyaman



Tak ada yang membuatku merasa nyaman,
dari pada keadaan sedang tidak mengurusi urusan orang lain.
my wisdom #1